Selain faktor pencahayaan, diagnosis diferensial penting yang sering terkecoh adalah masalah sirkulasi air pada sistem perakaran. Di musim kemarau, pemilik sering kali menyiram anggrek terlalu sering hingga 2 kali sehari tanpa memeriksa kelembapan media tanam arang atau cacah pakis. Hal ini menyebabkan akar menjadi busuk dan tergenang, sehingga kehilangan kemampuan menyerap nutrisi. Dampak paradoksnya adalah daun anggrek justru menguning, keriput, dan layu seperti kekurangan air.
Perlu juga dibedakan antara gejala klorosis akibat defisiensi hara dengan proses penuaan alami tanaman (senesensi). Klorosis akibat kekurangan unsur nitrogen atau zat besi ditandai dengan perubahan warna menguning pada seluruh helai daun muda atau jaringan antar-tulang daun, sementara tulang daun tetap berwarna hijau. sebaliknya, penuaan alami hanya terjadi pada 1 helai daun paling bawah secara bertahap setiap kurun waktu 3 hingga 6 bulan, sementara pucuk daun baru tumbuh sehat.
Untuk mengatasinya secara efektif di daerah iklim tropis, tingkat naungan paranet harus disesuaikan menjadi 65 hingga 75 persen guna menahan terik matahari kemarau. Penyiraman sebaiknya difokuskan pada frekuensi 1 kali sehari di pagi hari antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB, dengan memastikan media tanam sempat mengering sebagian sebelum malam tiba. Penggunaan pot berlubang samping sangat dianjurkan untuk menjamin aerasi akar tetap optimal.






