Pembusukan akar merupakan penyebab paling umum dari anggrek layu, yang terjadi ketika media tanam seperti sabut kelapa atau arang kayu terlalu basah dan memicu berkembangnya jamur patogen. Ketika akar membusuk dan berwarna cokelat kehitaman serta terasa lembek saat dipijit, kemampuan tanaman menyerap air terhenti total, yang mengakibatkan daun tampak layu layaknya kekurangan air. Sebaliknya, jika tanaman benar-benar mengalami dehidrasi, akar akan berwarna putih perak kekuningan, terasa kering kaku, serta media tanam terasa sangat ringan saat diangkat.
Untuk memulihkan anggrek yang layu di musim kemarau, pengaturan jadwal penyiraman harus disesuaikan dengan jenis media dan tingkat pencahayaan shading net berkisar 50 hingga 70 persen. Penyiraman ideal dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 08.00 WIB sebanyak 1 kali sehari untuk media arang, atau 2 hingga 3 hari sekali untuk media mos hitam atau pakis. Menjaga kelembapan mikro di sekitar area perakaran pada kisaran 60 hingga 80 persen dapat dibantu dengan menempatkan nampan berisi kerikil basah di bawah pot tanpa membiarkan dasar pot terendam air.
Pemulihan fisik tanaman yang layu membutuhkan tindakan repotting total menggunakan peralatan pembongkaran yang telah disterilkan dengan alkohol 70 persen. Potong seluruh bagian akar yang busuk, mati, atau mengering hingga menyisakan jaringan yang sehat dan hijau. Setelah pemotongan, angin-anginkan tanaman selama 2 hingga 4 jam di tempat berteduh sebelum ditanam kembali ke dalam media baru yang steril, lalu tunda penyiraman selama 3 hari pertama agar luka pemotongan menutup sempurna dan memicu pertumbuhan akar baru.






