Penyebab paling umum saat kemarau adalah kekurangan air (cekaman kekeringan). Daun akan keriting ke dalam, lemas, dan tampak kusam. Anggrek dalam pot dengan media yang terlalu cepat kering (misalnya pakis cacah) rentan mengalami hal ini. Frekuensi penyiraman perlu ditingkatkan menjadi setiap 2-3 hari, tergantung media dan ukuran pot. Namun, pastikan drainase baik agar tidak busuk akar.
Penyebab kedua adalah serangan hama seperti kutu putih (Pseudococcus) atau tungau (Tetranychus). Kutu putih meninggalkan embun tepung putih di lipatan daun, menyebabkan daun keriting dan menguning. Tungau menyebabkan daun keriting, berbintik kuning, dan ada jaring halus. Untuk kemarau, tungau lebih sering muncul karena kondisi kering. Semprot dengan insektisida nabati seperti ekstrak biji mimba (nimba) atau konsultasi ke BPP untuk pestisida kimia jika parah.
Penyebab lain termasuk kelebihan pupuk nitrogen yang menyebabkan daun tumbuh cepat namun rapuh dan keriting, atau serangan virus (misalnya Cymbidium mosaic virus) yang menyebabkan daun keriting disertai mosaik kuning. Untuk virus, tidak ada obat; isolasi tanaman dan musnahkan. Pastikan juga sinar matahari tidak terlalu terik (anggrek membutuhkan naungan 50-70%). Jika daun keriting hanya di ujung, bisa jadi kekurangan kalsium. Semprot dengan pupuk daun yang mengandung kalsium atau tambah dolomit ke media.