Penyebab pertama yang paling sering adalah serangan kutu daun (Aphididae). Kutu ini berukuran kecil (1-3 mm), berwarna hijau, hitam, atau putih, dan biasanya berkumpul di pucuk daun atau tangkai muda. Daun yang terserang akan menggulung ke bawah, lengket, dan sering ada semut yang berdatangan. Solusinya: semprot dengan air sabun (1 sendok sabun cair per liter air) setiap 3 hari selama seminggu, atau gunakan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau bawang putih. Baca label dan konsultasi dengan penyuluh jika menggunakan bahan kimia.
Penyebab kedua adalah tungau (Tetranychidae), terutama saat musim kemarau. Tungau sangat kecil, sulit terlihat tanpa kaca pembesar. Ciri khasnya: daun keriting ke atas, ada bercak kuning keperakan di permukaan daun, dan jaring-jaring halus di bawah daun. Serangan biasanya dimulai dari daun tua. Solusinya: tingkatkan kelembaban di sekitar tanaman dengan menyemprot air ke daun pada pagi hari (hindari sore hari agar tidak jamur). Gunakan predator alami seperti kumbang Coccinellidae atau semprot dengan belerang basah (fungisida nabati) sesuai dosis anjuran.
Penyebab ketiga adalah kekurangan air. Bougenville tetap butuh air meski tahan kering. Jika tanah terlalu kering, daun akan layu lalu keriting ke dalam, menguning, dan rontok. Ciri pembeda: tanah terlihat kering dan retak, daun keriting merata di seluruh tanaman, tidak ada hama atau bercak. Solusinya: siram secara teratur, 2-3 kali seminggu saat kemarau (sekitar 2-5 liter per tanaman tergantung ukuran), pastikan drainase baik. Mulsa jerami atau sekam di sekitar pangkal membantu menjaga kelembaban tanah.