Penyebab utama kegagalan pembentukan buah pada kakao adalah terganggunya populasi serangga penyerbuk alami, yaitu lalat kecil dari genus Forcipomyia. Lalat ini membutuhkan habitat yang lembab dengan tumpukan serasah daun setebal 3 hingga 5 cm di sekitar piringan tanah. Kebun yang terlalu bersih dari bahan organik atau terlalu sering disemprot bahan kimia keras justru akan memusnahkan lalat penyerbuk ini sehingga bunga mekar tanpa pernah terbuahi.
Selain penyerbukan, pengelolaan kanopi dan pohon naungan yang kurang tepat menjadi faktor penghambat utama. Kakao memerlukan intensitas cahaya matahari langsung sekitar 50 hingga 60 persen. Jika tajuk terlalu rapat dan tidak dipangkas setiap 3 hingga 4 bulan sekali, sinar matahari gagal menembus batang utama tempat munculnya bunga (sifat kauliflori), sehingga hormon pembungaan tidak dapat bekerja secara maksimal.
Untuk merangsang pembuahan yang konstan di musim kemarau, kelembaban mikro di sekitar perakaran harus dijaga dengan pembuatan rorak dan pemberian mulsa organik. Penampungan air rorak sebanyak 20 liter per lubang serta sanitasi kebun dari sisa buah terserang hama sangat penting untuk memastikan pohon kakao tetap stres ringan yang memicu pembungaan tanpa mengorbankan kesehatan tanaman secara keseluruhan.





