Selain faktor kekurangan air murni, kondisi tanah yang terlalu padat dan kering di musim kemarau dapat memicu retakan tanah yang merusak akar halus srikaya. Akar yang putus atau stres akibat kekeringan ekstrem ini sangat rentan dimasuki oleh patogen tular tanah seperti Fusarium sp. atau Ralstonia sp. yang hidup di dalam tanah tropis. Ketika jamur atau bakteri patogen ini berhasil mengkolonisasi jaringan pengangkut air tanaman, proses transportasi air dari akar ke tajuk atas terhambat total. Akibatnya, tanaman srikaya menunjukkan gejala layu permanen yang dimulai dari satu sisi cabang sebelum akhirnya seluruh tanaman mengering dan mati dalam waktu beberapa minggu.
Serangan hama pengurek batang atau kutu kebul juga kerap memperparah kondisi srikaya yang sedang mengalami stres kekeringan di musim kemarau. Hama penghisap cairan tanaman ini membuat pertahanan fisik srikaya melemah, sehingga daun menjadi kuning, menggulung, dan lama-kelamaan terkulai lemas. Pengamatan visual pada pangkal batang dan bagian bawah daun sangat dianjurkan untuk mendeteksi keberadaan hama pengganggu ini sejak dini sebelum populasi mereka meledak. Pembersihan gulma di sekitar piringan tanaman juga wajib dilakukan secara berkala agar tidak terjadi perebutan unsur hara dan air antara gulma dengan pohon srikaya utama.
Langkah pemulihan srikaya yang layu di musim kemarau harus dilakukan secara komprehensif mulai dari perbaikan manajemen air, pemberian naungan sementara, hingga pemupukan berimbang. Pemberian pupuk kandang matang di sekitar perakaran pada awal musim kemarau membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kapasitas mengikat air. Apabila tanaman terindikasi terserang penyakit layu akibat patogen tanah, pemangkasan bagian tanaman yang sudah mati dan aplikasi agen hayati yang ramah lingkungan dapat dipertimbangkan. Selalu konsultasikan dengan petugas penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk mendapatkan rekomendasi penanganan organisme pengganggu tumbuhan yang paling tepat.





