Ketika musim kemarau melanda, pohon jambu biji produktif berusia di atas dua tahun membutuhkan setidaknya 20 hingga 30 liter air per pohon, yang diberikan 2 sampai 3 kali dalam seminggu pada area perakaran di bawah tajuk luar. Pemberian mulsa organik dari jerami atau rumput kering setebal 5 hingga 10 sentimeter di sekeliling piringan pohon sangat efektif menahan penguapan air tanah. Pengolahan tanah yang terlalu dekat dengan pangkal batang utama sejauh 50 sentimeter juga harus dihindari agar akar serabut tidak terluka dan menjadi jalan masuk penyakit.
Jika layu tetap terjadi meskipun tanah dalam kondisi lembap, kemungkinan besar terjadi serangan jamur Fusarium atau bakteri Ralstonia. Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan mengaplikasikan agen antagonis seperti Trichoderma atau Pseudomonas fluorescens sebanyak 100 hingga 200 gram yang dicampur dengan 5 sampai 10 kilogram pupuk kandang matang per piringan pohon. Aplikasi agen hayati ini sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan atau saat transisi kemarau secara rutin setiap 3 bulan sekali.
Pemulihan pohon yang mulai tampak layu memerlukan tindakan pengurangan beban penguapan air dengan melakukan pemangkasan 30 hingga 50 persen ranting serta daun muda yang tidak produktif. Hindari pemberian pupuk kimia berunsur nitrogen tinggi saat tanaman sedang mengalami kelayuan karena dapat memperparah tingkat stres fisiologis dan mempercepat pembusukan akar. Selalu gunakan alat pangkas yang telah disterilkan dengan alkohol atau air sabun setiap kali berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.





