Selain faktor kekurangan air, serangan hama penggerek batang seperti larva Zeuzera sp. sering mengintai tanaman kelengkeng pada musim kering. Hama ini membuat saluran di dalam jaringan pembuluh kayu sehingga distribusi air dari akar menuju tajuk daun terputus secara mendadak. Di sisi lain, penyiraman yang tidak teratur atau media tanam yang terlalu padat juga bisa memicu infeksi jamur akar seperti Phytophthora sp. yang ditandai dengan layu basah meskipun tanah terlihat lembap.
Penanganan kelengkeng layu membutuhkan tindakan diagnostik yang tepat sebelum melakukan pemulihan. Jika layu disebabkan oleh kekeringan, lakukan penyiraman secara perlahan pada pagi hari sebelum pukul 08.00 dengan volume terukur, lalu lapisi area piringan tanah dengan mulsa organik jerami setebal 10 cm. Pemangkasan 20 sampai 30 persen ranting halus juga efektif mengurangi beban transpirasi daun saat tanaman dalam masa kritis.
Untuk memulihkan kesehatan tanah dan merangsang pembentukan akar baru, tambahkan 5 hingga 10 kg kompos matang yang telah diperkaya mikroba hayati per pohon setiap 6 bulan sekali. Hindari pemberian pupuk anorganik berkadar garam tinggi saat tanaman masih menunjukkan gejala layu. Amati perkembangan tanaman selama 14 sampai 21 hari untuk memastikan munculnya tunas-tunas baru yang segar.





