Langkah awal diagnosis diferensial adalah membedakan antara layu akibat kekurangan air murni dengan layu akibat infeksi jamur Phytophthora palmivora. Pada kasus kekeringan murni, tanah di sekitar piringan tajuk terasa sangat kering dan keras, sedangkan seluruh tajuk tanaman menunjukkan gejala layu secara merata. Sebaliknya, jika durian layu akibat serangan penyakit busuk akar atau kanker batang Phytophthora, layu sering kali dimulai dari satu sisi cabang utama saja, diiringi adanya lelehan lendir cokelat kemerahan pada kulit batang serta bau busuk yang menyengat saat pangkal batang dikupas.
Penyebab ketiga yang sering tidak disadari oleh pekebun adalah serangan hama penggerek batang seperti larva Xyleborus sp. Hama ini membuat lubang di sepanjang pembuluh kayu sehingga menyumbat aliran nutrisi dari akar ke daun, ditandai dengan ditemukannya serbuk kayu halus seperti gergaji di sekitar pangkal batang. Selain itu, aplikasi pupuk anorganik berdosis tinggi yang diberikan saat kondisi tanah kering tanpa penyiraman yang cukup juga kerap memicu nekrosis akar, yang membuat tanaman menunjukkan respon layu mendadak dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari setelah pemupukan.
Untuk mengatasi masalah durian layu secara efektif, pembenahan tata kelola kebun harus dilakukan secara bertahap. Aplikasikan mulsa jerami atau rumput kering setebal 10 hingga 15 cm di sekeliling piringan pohon dengan menyisakan jarak 10 cm dari pangkal batang utama guna menjaga kelembaban tanah. Pemangkasan sanitasi pada ranting yang mati harus rutin dilakukan seminggu sekali, diiringi dengan pembuatan rorak atau lubang biopori berukuran 40x40 cm di luar garis tajuk untuk memaksimalkan penyerapan air siraman maupun embun pagi.





