Untuk mengatasi hal ini secara tepat, kita harus mengenali gejala awal seperti ujung daun menguning, helai daun terkulai pada pukul 12 siang, hingga kerontokan daun tua secara masif. Pada fase awal musim kemarau, pohon durian membutuhkan pasokan air minimal 50 hingga 100 liter per pohon setiap 3 hari sekali yang diberikan langsung pada zona perakaran aktif di bawah tajuk. Jika penyiraman ini diabaikan, stomata daun akan menutup total untuk menghemat air, yang justru berujung pada kematian jaringan tanaman secara perlahan.
Selain faktor kekeringan murni, musim kemarau yang panas juga mempercepat perkembangan patogen tular tanah yang dorman di dalam tanah masam khas lahan tropis kita. Ketika tanah mengalami retak-retak akibat kekeringan, akar serabut durian yang sangat sensitif akan putus dan menjadi jalan masuk bagi mikroorganisme perusak. Oleh karena itu, aplikasi mulia organik setebal 10 sentimeter di piringan pohon sangat krusial untuk menjaga kelembapan mikro tanah dan menekan laju penguapan air selama puncak kemarau.
Langkah pemulihan harus dilakukan secara komprehensif mulai dari perbaikan sistem irigasi tetes, pemangkasan sebagian cabang untuk mengurangi beban transpirasi, hingga pemberian nutrisi berimbang yang tidak memicu panas pada akar. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau Balai Penyuluhan Pertanian setempat sebelum memutuskan menggunakan bahan pengendali kimiawi agar dosis dan aplikasinya tepat sasaran serta aman bagi lingkungan.