Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah kekeringan ekstrim akibat minimnya curah hujan selama tiga hingga enam bulan berturut-turut, di mana laju penguapan air dari daun jauh lebih cepat daripada kemampuan akar menyerap air dari dalam tanah. Tanah yang mengeras dan retak-retak di sekitar perakaran rambutan membuat suplai hara dan air terhenti total, menyebabkan daun menggulung, mengering, lalu rontok massal. Pada kondisi ini, penambahan mulia organik dan penyiraman masif dengan volume air 50 hingga 100 liter per pohon setiap tiga hari sekali sangat krusial untuk mengembalikan kelembapan tanah.
Selain faktor cuaca, serangan patogen tular tanah seperti Fusarium sp. atau Phytophthora sp. merupakan ancaman serius yang kerap disalahartikan sebagai kekurangan air biasa. Jamur parasit ini masuk melalui luka pada sistem perakaran yang basah tergenang lalu mengering, kemudian menyumbat jaringan pembuluh kayu atau xilem sehingga pasokan air ke atas terhalang sepenuhnya. Ciri khas serangan patogen ini adalah daun layu tetapi tetap menempel di ranting, serta adanya perubahan warna kecoklatan hingga kehitaman pada jaringan di bawah kulit batang bagian pangkal. Penanganan untuk kasus patogen membutuhkan tindakan sanitasi ketat dengan memangkas bagian terinfeksi dan memperbaiki drainase.
Pencegahan dan pemulihan pohon rambutan layu memerlukan ketelatenan serta konsistensi dalam perawatan harian di iklim tropis Indonesia. Pekebun dianjurkan untuk rutin membersihkan gulma di sekitar piringan pohon seluas tajuk agar tidak terjadi perebutan unsur hara dan air, serta melakukan pemupukan berimbang menjelang musim kemarau. Apabila tanaman menunjukkan gejala layu yang parah disertai kebusukan akar, segera konsultasikan dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau datangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) terdekat untuk mendapatkan rekomendasi penanganan teknis yang paling aman.