Selain faktor cuaca, serangan penggerek batang (Batocera sp.) kerap menjadi pemicu utama layu mendadak. Larva hama ini membuat lubang ke dalam jaringan xilem pada batang utama sejauh 10 hingga 50 cm, sehingga pasokan air dan nutrisi terhenti total. Pembudidaya perlu memeriksa area pangkal batang setinggi 0,5 sampai 1,5 meter dari permukaan tanah untuk menemukan kotoran berupa serbuk kayu basah.
Infeksi jamur akar putih (Rigidoporus microporus) atau penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) juga sering mengintai ketika kelembapan tanah fluktuatif pasca hujan sesekali di musim kemarau. Tanaman berumur 2 hingga 5 tahun paling rentan terserang, ditandai dengan daun layu lunglai dari pucuk atas ke bawah dalam waktu 7 sampai 14 hari tanpa adanya tanda kekeringan fisik pada tanah sekitarnya.
Langkah penanganan darurat harus dilakukan sesegera mungkin dengan memberikan penyiraman bertahap sebanyak 20 hingga 40 liter air per pohon, interval 2 hari sekali pada pagi hari (pukul 06.00-08.00). Pengaplikasian mulsa organik tebal 10 cm di sekitar piringan tajuk sejauh 1 meter dari pangkal batang sangat disarankan untuk menekan penguapan air tanah hingga 40% selama musim kemarau berlangsung.





