Penyebab utama dari masalah ini pada musim kemarau adalah meningkatnya populasi hama penghisap cairan tanaman seperti thrips, kutu daun, dan tungau. Cuaca panas dengan suhu udara di atas 30 derajat Celsius dan kelembapan rendah menciptakan lingkungan ideal bagi hama-hama ini untuk berkembang biak dengan cepat. Hama menyedot cairan sel pada jaringan daun muda, sehingga pertumbuhan sel menjadi tidak merata dan menyebabkan daun menggulung atau keriting.
Selain faktor hama, stres air dan ketidakseimbangan nutrisi juga berkontribusi pada gejala keriting. Pada musim kemarau panjang, tanah di sekitar piringan akar sering mengalami kekeringan ekstrem. Kurangnya pasokan air menghambat penyerapan unsur hara kalsium dan boron yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel daun baru. Untuk mengatasi stres air ini, berikan penyiraman sebanyak 20 hingga 30 liter per pohon setiap 3 sampai 4 hari sekali di area bawah tajuk.
Pengendalian terpadu harus segera dilakukan begitu gejala awal terlihat pada pucuk tanaman. Lakukan pemangkasan sanitasi pada bagian yang terinfeksi parah dan rutin semprotkan pestisida nabati berbasis minyak mimba atau sabun kalium seminggu sekali pada sore hari. Pemulihan jaringan tanaman biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 minggu setelah populasi hama berhasil dikendalikan dan kebutuhan air serta nutrisi tanaman terpenuhi kembali.





