Penyebab utama yang paling sering dijumpai di lapangan adalah serangan hama penghisap seperti thrips, kutu loncat durian, dan tungau. Hama-hama mikroskopis ini sangat aktif berkembang biak ketika suhu udara meningkat di atas 32 derajat Celsius dengan kelembapan udara yang rendah. Mereka mengisap cairan sel pada helai daun muda yang masih lunak, meninggalkan bekas berupa bercak kekuningan, tepi daun menggelembung, atau helai daun yang mengkerut keras.
Selain faktor hama, kondisi daun keriting juga dapat dipicu oleh faktor non-biotik seperti defisiensi unsur hara mikro kalsium serta boron, atau kombinasi cekaman kekeringan tanah. Ketika pasokan air di sekitar piringan pohon berkurang secara drastis pada musim kemarau, translokasi kalsium menuju titik tumbuh muda menjadi terhambat. Akibatnya, dinding sel daun muda tidak terbentuk sempurna dan menghasilkan helai daun yang kaku, melengkung ke bawah, atau berbentuk tidak simetris.
Pengendalian masalah ini memerlukan kombinasi sanitasi kebun, manajemen penyiraman yang teratur sebanyak 20 sampai 30 liter per pohon muda setiap 2 hari sekali, serta pemupukan berimbang. Pemangkasan tunas terserang secara berkala dan pemberian mulsa organik tebal 5 sampai 10 cm di sekitar piringan tajuk akan membantu menjaga kelembapan tanah serta menekan laju populasi hama di musim kemarau.





