Penyebab utama dari gejala ini biasanya adalah serangan hama pengisap cairan daun seperti kutu kebul atau tungau yang berkembang biak sangat cepat di cuaca panas kemarau. Hama-hama mikroskopis ini bersembunyi di balik daun muda, mengisap cairan sel hingga daun mengerut, melengkung ke dalam, dan menguning. Selain hama, faktor lingkungan seperti kekurangan pasokan air secara drastis atau ketidakseimbangan unsur hara mikro boron di dalam tanah juga dapat memicu deformasi bentuk daun muda yang baru tumbuh. Oleh karena itu, pemeriksaan visual secara teliti pada bagian bawah daun sangat menentukan keberhasilan diagnosis awal sebelum kita memutuskan langkah pengobatan.
Langkah penanganan pertama yang paling dianjurkan di lapangan adalah melakukan pemangkasan sanitasi pada daun dan ranting yang terserang parah untuk menekan populasi hama sekaligus merangsang tunas baru yang sehat. Di musim kemarau, pastikan penyiraman dilakukan secara rutin sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari guna menjaga kelembapan mikro di sekitar perakaran tanaman jambu biji. Jika indikasi mengarah pada serangan hama pengisap, lakukan penyemprotan air bertekanan tinggi untuk merontokkan hama tersebut, atau gunakan pestisida nabati dari ekstrak daun mimba dan bawang putih yang disemprotkan setiap sore secara berkala.
Apabila serangan hama sudah meluas melebihi ambang batas ekonomi atau jika keriting daun disebabkan oleh defisiensi hara, konsultasikan segera dengan petugas penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi bahan pengendali kimia yang tepat sesuai label. Selalu utamakan keselamatan kerja dengan memakai alat pelindung diri lengkap saat mengaplikasikan produk perlindungan tanaman. Dengan perawatan yang konsisten, pemberian pupuk organik matang setiap tiga bulan sekali, dan pemantauan rutin, tanaman jambu biji kesayangan Anda akan kembali tumbuh subur, hijau, dan menghasilkan buah lebat.