Penyebab utama daun jeruk keriting terbagi menjadi dua kategori, yaitu faktor biotik berupa serangan hama dan faktor abiotik berupa cekaman lingkungan. Pada musim kemarau dengan suhu udara di atas 32 derajat Celsius, populasi hama pengisap seperti kutu loncat jeruk, thrips, tungau, dan pengorok daun meningkat sangat cepat. Selain itu, kekurangan pasokan air minimal 15 hingga 20 liter per pohon dewasa per hari dapat memicu respon alami tanaman untuk menggulungkan daunnya guna mengurangi laju penguapan.
Penanganan masalah ini memerlukan pendekatan terpadu yang disesuaikan dengan akar penyebabnya. Tindakan sanitasi kebun seperti pemangkasan tunas air dan daun yang terserang berat harus dilakukan seminggu sekali. Penggunaan mulsa organik setebal 5 hingga 10 sentimeter di sekeliling piringan pohon sangat efektif menjaga kelembapan tanah serta menekan laju penguapan air selama musim kemarau berlangsung.
Untuk pengendalian hama secara ramah lingkungan, penyemprotan larutan minyak mimba atau sabun kalium dapat dilakukan 1 sampai 2 kali seminggu pada pagi hari sebelum pukul 08.00 WIB. Pengamatan rutin terhadap munculnya trubus atau tunas muda setiap 3 hari sekali sangat dianjurkan. Apabila serangan hama berlanjut dan berpotensi menularkan penyakit berbahaya seperti CVPD, segera hubungi petugas penyuluh pertanian setempat untuk konsultasi tindakan lebih lanjut.





