Selain faktor cuaca panas, fenomena keriting pada buah naga sangat erat kaitannya dengan aktivitas hama mikro seperti tungau merah atau kutu kebul yang bersembunyi di balik cekungan batang. Hama pengisap cairan sel ini aktif berkembang biak dengan cepat saat kelembapan udara rendah di musim kemarau. Ketika mereka menusuk dan menghisap cairan nutrisi, jaringan di sekitar tusukan akan mengalami nekrosis lokal, menebal tidak beraturan, dan akhirnya menarik permukaan batang sehingga tampak keriting dan berkerut.
Untuk mendiagnosis secara akurat, pekebun perlu memeriksa bagian cekungan batang dan area pertumbuhan baru secara teliti setiap tiga hari sekali di pagi hari. Jika ditemukan koloni hama berwarna merah kehitaman atau putih bertepung, tindakan pengendalian mekanis dan hayati harus segera diambil tanpa menunda. Pemupukan berimbang yang kaya unsur kalium dan kalsium juga memegang peranan vital untuk memperkuat dinding sel tanaman agar lebih tahan terhadap teriknya sengatan matahari kemarau.
Pencegahan jangka panjang dapat dilakukan dengan memasang jaring peneduh atau paranet berintensitas 30 hingga 40 persen di atas kanopi tanaman pada pukul 11.00 hingga 14.00 saat radiasi surya mencapai puncaknya. Pastikan juga pemberian mulia organik seperti jerami padi setebal 5 sentimeter di sekeliling pangkal tiang panjat untuk menjaga kelembapan mikro tanah tetap terjaga. Dengan kombinasi manajemen air yang tepat dan pengendalian hama terpadu, batang buah naga akan kembali pulih dan menghasilkan buah berkualitas prima.