Selain faktor hama, serangan cendawan pemicu penyakit embun tepung juga menjadi pemicu utama bentuk daun yang terpilin dan berubah warna menjadi keperakan atau kehitaman. Jamur ini berkembang biak dengan cepat pada kondisi malam hari yang lembap di atas 85 persen yang diikuti oleh siang hari yang terik berangin. Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu pada area pucuk tanaman sangat disarankan agar tindakan pengendalian mekanis maupun biologis dapat dilakukan sebelum kerusakan menyebar ke seluruh percabangan.
Penyebab non-biologis yang sering terabaikan oleh pekebun adalah kurangnya pasokan unsur hara mikro seperti Kalsium dan Boron serta stres dehidrasi saat tanah mengering di musim kemarau. Tanaman mangga dewasa membutuhkan penyiraman berkala setidaknya 20 hingga 40 liter air per pohon setiap 3 sampai 5 hari sekali jika tidak ada hujan sama sekali. Kekurangan air berlarut-larut menyebabkan sel-sel daun muda tumbuh tidak seimbang sehingga helaian daun menggulung, mengeras, dan akhirnya rontok secara prematur.
Pengendalian efektif diawali dengan sanitasi kebun secara menyeluruh, yaitu memangkas tunas-tunas air yang terlalu rimbun dan membersihkan gulma di radius 2 meter dari pangkal batang. Langkah ini memperbaiki sirkulasi udara dan intensitas cahaya matahari pagi yang masuk hingga 80 persen ke dalam interior tajuk. Jika populasi hama sudah melampaui ambang batas, pangkas bagian daun yang keriting parah lalu musnahkan dengan cara dikubur atau dibakar jauh dari lokasi perkebunan.





