Pertama, periksa asal bibit. Alpukat yang ditanam dari biji (seedling) membutuhkan waktu 5-10 tahun untuk mulai berbuah, bahkan ada yang tidak pernah berbuah karena sifat genetiknya tidak unggul. Sebaliknya, bibit sambung (okulasi/grafting) dari pohon induk yang sudah produktif biasanya berbuah dalam 2-3 tahun. Jika pohon Anda dari biji dan sudah berusia di atas 7 tahun, pertimbangkan untuk menyambung dengan entres dari pohon yang sudah berbuah.
Kedua, perhatikan faktor lingkungan dan perawatan. Alpukat membutuhkan sinar matahari penuh minimal 6 jam per hari. Pohon yang terlalu rimbun atau ternaungi akan sulit berbunga. Pemupukan nitrogen berlebihan juga merangsang pertumbuhan daun tetapi menghambat pembungaan. Pada musim kemarau, kekurangan air dapat menyebabkan gagal bunga atau buah gugur. Sebaliknya, genangan air saat musim hujan bisa membusukkan akar. Lakukan pemangkasan ringan untuk membuka tajuk, kurangi pupuk nitrogen, dan beri pupuk fosfor (P) dan kalium (K) tinggi saat awal musim kemarau untuk merangsang pembungaan.
Ketiga, masalah penyerbukan. Alpukat memiliki bunga tipe A dan B yang membuka pada waktu berbeda. Untuk penyerbukan silang optimal, tanam minimal dua varietas berbeda dengan tipe bunga yang komplementer. Misalnya, alpukat mentega (tipe A) dengan alpukat pluwang (tipe B). Jika hanya satu pohon, Anda bisa membantu penyerbukan manual dengan kuas pada pagi hari saat bunga betina reseptif. Selain itu, hindari penggunaan pestisida saat berbunga agar serangga penyerbuk tidak terganggu.