Faktor genetik dan asal bibit juga memegang peranan kunci dalam produktivitas alpukat. Tanaman alpukat yang ditanam langsung dari biji (generatif) membutuhkan waktu hingga tujuh sampai sepuluh tahun untuk berbuah, dan sifat unggul induknya belum tentu menurun. Sebaliknya, bibit hasil sambung pucuk (grafting) atau okulasi biasanya mulai belajar berbuah pada umur tiga sampai empat tahun. Selain itu, jenis penyerbukan alpukat yang terbagi menjadi tipe A dan tipe B memerlukan kehadiran serangga penyerbuk serta kelembapan lingkungan yang pas saat bunga mekar di pagi atau sore hari.
Pembentukan bunga pada alpukat membutuhkan stres air terkontrol selama dua sampai tiga minggu di awal musim kemarau. Petani dapat menghentikan penyiraman sementara hingga daun terlihat sedikit layu di siang hari, kemudian memberikan pemupukan kaya fosfor dan kalium. Pemberian pupuk organik padat sebanyak 20 hingga 30 kilogram per pohon yang dikombinasikan dengan pupuk P dan K tinggi pada radius dua meter dari pangkal batang akan mendorong perubahan fase dari pertumbuhan vegetatif ke fase pembuahan secara efektif.
Pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan juga wajib dilakukan secara rutin setahun sekali setelah masa panen atau sebelum masuk musim pembuahan. Dengan memotong dahan yang saling bersilangan, tunas air, dan cabang yang mati, cahaya matahari dapat menembus hingga 80 persen bagian dalam tajuk pohon. Pencahayaan yang cukup pada tajuk bagian dalam akan merangsang terbentuknya tunas-tunas bunga baru dan mencegah serangan hama penggerek batang maupun jamur jelutut yang sering menyerang tajuk yang terlalu rimbun.





