Memasuki musim kemarau, ancaman utama datang dari kelompok hama penghisap cairan seperti tungau merah dan kutu putih. Tungau merah berkembang pesat pada kelembapan udara di bawah 60 persen, menyebabkan daun berwarna cokelat keperakan dan gugur prematur. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan penyemprotan biopestisida berbahan aktif minyak mimba konsentrasi rendah atau agen hayati Beauveria bassiana seminggu sekali pada sore hari.
Sebaliknya, pada puncak musim hujan, kelembapan tinggi memicu aktivitas penggerek batang dan ulat pemakan daun. Penggerek batang membuat lubang berdiameter 2 hingga 4 milimeter pada cabang utama yang ditandai dengan munculnya kotoran menyerupai serbuk gergaji. Pemangkasan pemeliharaan untuk menjaga pembukaan kanopi agar sinar matahari masuk sebanyak 70 persen sangat efektif menekan populasi hama ini secara alami.
Untuk melindungi buah dari serangan lalat buah yang marak saat tanaman berbuah rata-rata 30 hingga 50 kg per pohon, pembungkusan buah menggunakan kantong kertas kraf atau plastik berlubang harus dilakukan saat buah berukuran sebesar telur ayam atau sekitar 30 hari setelah bunga mekar. Integrasi sanitasi kebun dengan mengubur buah yang gugur sedalam 30 centimeter memutus siklus hidup lalat buah secara signifikan.




