Hama ulat pemakan daun dan ulat kipat biasanya aktif menyerang pada musim peralihan atau pancaroba. Gejala awalnya berupa daun muda yang berlubang atau tergulung benang sutra putih di balik helaian daun. Jika dibiarkan, serangan ini meluas hingga menyisakan tulang daun saja, menghambat proses fotosintesis tanaman secara keseluruhan. Pengendalian mekanis dengan cara memangkas daun yang terinfeksi parah dan mengumpulkan ulat secara manual terbukti sangat efektif untuk menekan populasi awal tanpa merusak keseimbangan ekosistem mikro di sekitar tajuk pohon alpukat.
Selain ulat, serangan kutu putih dan tungau merah kerap menjadi momok menakutkan saat musim kemarau panjang melanda perkebunan alpukat. Hama pengisap ini bersembunyi di balik daun atau tangkai buah, meninggalkan bercak kekuningan serta lapisan embun jelaga hitam yang menurunkan mutu visual buah. Penyemprotan air bertekanan tinggi pada sore hari dapat merontokkan sebagian besar koloni kutu putih. Penggunaan musuh alami seperti kumbang kepik predator juga sangat dianjurkan untuk menjaga populasi hama pengisap ini tetap berada di bawah ambang batas ekonomi.
Hama penggerek buah dan batang merupakan kelompok perusak yang paling merugikan karena menyerang langsung bagian ekonomis tanaman alpukat. Gejala serangan ditandai dengan keluarnya cairan getah mengeras pada kulit buah atau batang disertai lubang kecil berukuran 2 milimeter. Untuk mencegah kerugian total, petani wajib membuang dan memusnahkan buah alpukat yang jatuh atau cacat akibat lubang gerek ke dalam lubang tanah sedalam setengah meter. Penerapan sanitasi kebun yang konsisten, pemupukan berimbang, dan menjaga kebersihan pangkal batang dari gulma adalah kunci utama keberhasilan budidaya alpukat tahan hama.