Memasuki fase pertumbuhan aktif yang biasanya terjadi pada bulan April hingga September di sebagian besar wilayah Indonesia, berikan pupuk cair organik atau anorganik yang telah diencerkan hingga seperempat dari takaran normal. Aplikasikan pupuk ini hanya pada media tanam yang sudah dalam keadaan lembap untuk mencegah terjadinya luka bakar pada akar sukulen yang sensitif. Hindari pemupukan langsung pada bagian roset atau daun sukulen karena cairan yang mengendap di sela-sela daun dapat memicu pembusukan akibat jamur.
Sebaliknya, pada fase dormansi atau istirahat tanaman yang sering kali dipicu oleh kelembapan tinggi saat musim hujan di Indonesia, hentikan total pemberian pupuk. Pemberian nutrisi saat sukulen beristirahat justru akan menumpuk di media tanam, menyebabkan keracunan garam mineral, dan merusak sistem perakaran yang sedang tidak menyerap makanan. Gunakan waktu ini untuk fokus pada pengaturan drainase media tanam dan memastikan sirkulasi udara di sekitar rak tanaman tetap lancar dan terbuka.
Pemilihan jenis pupuk sangat menentukan kesehatan sukulen dalam jangka panjang, di mana pupuk lepas lambat (slow release) berbentuk butiran sangat dianjurkan untuk pemula karena nutrisinya dilepaskan secara perlahan selama 3 hingga 6 bulan. Pastikan media tanam memiliki porositas tinggi yang terdiri dari campuran sekam bakar, pasir malang, dan perlite dengan perbandingan setidaknya 1:1:1 agar sirkulasi udara akar tetap terjaga optimal. Selalu ikuti petunjuk pada kemasan produk dan konsultasikan dengan petugas BPP setempat untuk rekomendasi bahan kimia yang paling aman.