Sebaliknya, penyiraman yang terlalu sedikit juga dapat membuat daun sukulen menguning, namun dengan tekstur yang sangat berbeda. Saat kekurangan air di tengah paparan suhu tinggi musim kemarau, tanaman memindahkan cadangan air dari daun tua ke daun muda. Ciri utamanya adalah daun menguning pucat, mengerut, terasa tipis, dan mengering dari pinggir. Pemberian air dengan metode siram jenuh hingga keluar dari lubang drainase pot setiap 7 hingga 10 hari sekali di luar ruangan dapat memulihkan kesegarannya.
Faktor intensitas cahaya matahari turut memegang peranan penting dalam perubahan warna daun sukulen. Tanaman yang diletakkan di tempat kurang cahaya (kurang dari 4 jam sehari) akan mengalami etiolasi, di mana daunnya memucat menguning dan batangnya tumbuh meninggi secara tidak proporsional. Namun, jika dipindahkan secara mendadak ke bawah paparan sinar matahari terik musim kemarau tanpa adaptasi, daun dapat mengalami sengatan matahari (sunburn) berupa bercak kuning kecokelatan yang mengeras.
Selain faktor lingkungan, penggunaan media tanam yang tidak tepat sering kali memperparah kondisi ini. Tanah kebun biasa yang padat memegang air terlalu lama dan memicu jamur akar. Formulasi media tanam ideal untuk sukulen di Indonesia adalah campuran dengan proporsi minimal 60 persen bahan anorganik (seperti pasir malang, batu apung, atau perlite) dan 40 persen bahan organik (seperti sekam bakar atau kompos halus). Media yang porous memastikan drainase berjalan cepat dan akar tetap beraerasi baik.






