Penyebab paling dominan di Indonesia adalah kelebihan air atau overwatering yang memicu pembusukan akar. Saat suhu udara musim kemarau terasa menyengat, banyak pemilik tanaman keliru dengan menyiram lidah mertua sebanyak 1 hingga 2 liter air setiap hari. Padahal, daun dan rimpang sukulen ini menyimpan cadangan air yang melimpah, sehingga penyiraman harian justru membuat media tanam jenuh, lembab berlebih, dan memicu infeksi jamur akar.
Penyebab kedua yang sering terjadi saat kemarau adalah paparan sinar matahari langsung secara mendadak pada pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Terik matahari ekstrem dapat membakar jaringan daun dan merusak klorofil, menghasilkan warna kuning pucat atau bercak putih yang mengering. Tanaman lidah mertua yang diletakkan di teras terbuka tanpa paranet atau naungan sangat rentan mengalami stres panas ini.
Untuk mengatasi masalah ini secara tepat, lakukan Pengecekan media tanam menggunakan tusuk kayu hingga kedalaman 5 cm sebelum memutuskan untuk menyiram. Atur frekuensi penyiraman menjadi cukup 1 kali setiap 7 hingga 14 hari saja di musim kemarau. Pastikan juga media tanam memiliki porositas tinggi dengan campuran tanah humus, sekam bakar, dan pasir malang berbanding 1:2:2 agar air sisa siraman langsung tuntas mengalir out melalui lubang pot.






