Penyebab kedua yang sering dijumpai adalah serangan hama penghisap cairan seperti kutu putih dan tungau merah. Kutu putih bersembunyi di sela-sela pangkal daun dan menyedot nutrisi serta cairan sel tanaman. Akibatnya, pertumbuhan daun baru menjadi terdistorsi, melengkung, dan keriting. Penurunan kelembapan udara di musim kemarau mempercepat siklus perkembangbiakan hama ini hingga 2 kali lebih cepat.
Kerusakan sistem perakaran akibat frekuensi penyiraman yang salah juga memicu gejala daun keriting. Saat media tanam terlalu padat dan disiram berlebihan, akar akan membusuk sehingga tidak mampu menyerap air. Sebaliknya, media yang tidak pernah disiram selama lebih dari 3 minggu membuat akar serabut kering dan mati. Kedua kondisi ekstrem ini memicu kelayuan fisik yang ditandai dengan daun melengkung dan kehilangan ketegagannya.
Untuk memulihkan tanaman, lakukan penyiraman secara berkala setiap 7 hingga 10 hari sekali pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 WIB selama musim kemarau. Pastikan media tanam menggunakan campuran poros seperti sekam bakar, pasir malang, dan kompos dengan perbandingan 2:1:1. Penempatan tanaman di area dengan intensitas cahaya matahari tidak langsung sebesar 50 hingga 60 persen akan membantu pemulihan jaringan daun secara optimal dalam waktu 4 hingga 6 minggu.






