Penyebab paling sering dari daun puring keriting secara mendadak adalah serangan hama penghisap cairan tanaman seperti tungau merah (Tetranychus urticae), thrips, atau kutu kebul. Hama-hama ini biasanya bersembunyi di balik permukaan bawah daun dan menusuk jaringan epidermis untuk mengisap cairan sel. Akibat hilangnya tekanan turgor secara tidak merata pada sel-sel daun, pertumbuhan daun muda menjadi tidak simetris sehingga tampak keriting, mengkerut, dan sering kali disertai munculnya bercak keperakan atau jelaga hitam.
Selain faktor hama, kesalahan manajemen penyiraman dan pemupukan menjadi faktor pembanding yang kerap ditemukan di lapangan. Penyiraman yang tidak teratur, misalnya hanya dilakukan 1 kali seminggu saat suhu terik, menyebabkan akar puring mengalami dehidrasi kronis. Di sisi lain, pemberian pupuk anorganik berkadar Nitrogen tinggi dengan frekuensi berlebihan tanpa diimbangi penyiraman yang cukup akan meningkatkan salinitas media tanam, menyebabkan penyerapan air terhambat dan merusak jaringan daun muda yang baru mekar.
Untuk memulihkan puring dengan daun keriting, pemangkasan sanitasi perlu dilakukan pada daun yang terinfeksi parah atau sudah mengering. Pindahkan pot ke area yang mendapat naungan paranet 30 hingga 50 persen selama 2 hingga 3 minggu untuk mengurangi pemaparan terik matahari langsung. Lakukan pengusapan daun secara rutin menggunakan air bersih hangat dan jaga kelembapan media tanam dengan penyiraman konsisten 1 hingga 2 kali sehari agar tunas daun baru dapat tumbuh lurus dan sehat.






