Penyebab pertama adalah kekurangan air (cekaman kekeringan). Ciri: daun layu pada siang hari, tetapi segar kembali pada pagi atau sore hari; tanah kering pecah-pecah; daun bagian bawah menguning dan rontok. Solusi: siram secara teratur 2-3 hari sekali (volume 1-2 liter per tanaman dewasa) dan beri mulsa organik (jerami, sekam) setebal 5-7 cm untuk menjaga kelembaban tanah.
Penyebab kedua adalah serangan kutu putih (Planococcus citri). Ciri: layu disertai adanya gumpalan putih seperti kapas di ketiak daun atau batang; daun menguning, keriting, dan ada embun madu (cairan lengket) yang bisa memicu jamur jelaga. Solusi: semprot dengan insektisida nabati seperti larutan bawang putih (5 siung halus + 1 liter air, diamkan semalaman) atau minyak neem (10 ml/liter air) setiap 5-7 hari. Untuk serangan berat, konsultasikan ke BPP setempat.
Penyebab ketiga adalah penyakit layu fusarium (Fusarium oxysporum). Ciri: layu permanen meski tanah lembab; batang dekat pangkal berwarna coklat kehitaman; jika batang dibelah terlihat jaringan pembuluh berwarna coklat. Solusi: cabut dan musnahkan tanaman terinfeksi; jangan menanam puring di lokasi yang sama selama 2-3 musim; perbaiki drainase tanah dengan meninggikan bedengan atau mencampur pasir. Gunakan fungisida hayati Trichoderma sp. sesuai dosis label.