Selain masalah penyiraman, kekurangan unsur hara harian seperti nitrogen dan besi juga menjadi pemicu utama klorosis pada daun melati. Tanaman melati yang rajin berbunga membutuhkan pemupukan rutin setiap 14 hari sekali menggunakan pupuk organik cair atau kompos matang sebanyak 500 gram per pot. Tanpa asupan hara yang seimbang, produksi klorofil terhenti sehingga tulang daun atau seluruh helaian daun berubah warna menjadi pucat kekuningan.
Fisiologi tanaman melati juga rentan terhadap serangan hama pengisap cairan seperti tungau laba-laba dan kutu putih yang berkembang pesat pada puncak musim kemarau bulan Juli hingga September. Hama ini merusak sel-sel klorofil pada permukaan bawah daun, meninggalkan bercak kekuningan bercampur jelaga hitam. Jika dibiarkan selama 1 hingga 2 minggu, daun melati akan rontok secara massal dan menggagalkan pembentukan kuncup bunga.
Untuk memulihkan kesehatan melati yang menguning, penanganan harus disesuaikan dengan penyebab utamanya melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pola pemeliharaan. Atur jadwal penyiraman sebanyak 2 kali sehari pada pagi hari sebelum pukul 08.00 dan sore hari setelah pukul 16.00 WIB. Kombinasikan pemangkasan cabang tua setinggi 10 hingga 15 cm dari permukaan tanah dengan penggantian media tanam secara berkala setiap 6 bulan agar sirkulasi udara di area perakaran tetap optimal.






