Selain faktor cuaca ekstrem, gejala melati layu sering kali dipicu oleh serangan penyakit tular tanah yang mematikan. Pada kondisi tanah yang terlalu padat atau terlalu sering disiram secara tidak merata, cendawan Fusarium dan bakteri Ralstonia solanacearum dapat menginfeksi pembuluh xilem akar tanaman. Akibatnya, alur distribusi air dan unsur hara tersumbat total, menyebabkan daun melati meliuk layu secara mendadak meskipun permukaan media tanam terlihat basah atau lembap.
Penyiraman rutin pada musim kemarau idealnya dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 dan sore hari pukul 16.00 hingga 17.00 dengan volume sekitar 1 hingga 2 liter per pot berdiameter 30 cm. Pemberian mulsa organik seperti sekam padi lapuk atau serbuk sabut kelapa setebal 3 hingga 5 cm di atas permukaan tanah sangat efektif menekan penguapan air tanah hingga 40 persen. Langkah penyiraman konsisten ini mencegah kejutan termal yang sering memicu kecokelatan pada pucuk daun melati.
Penanganan melati layu harus diawali dengan tindakan sanitasi dan pemangkasan pemeliharaan pada bagian tanaman yang terserang. Pemangkasan sekitar 20 hingga 30 persen cabang yang kering atau mati akan mengurangi beban transpirasi tanaman secara signifikan. Jika layu disebabkan oleh patogen akar, pengocoran agens hayati berbasis Trichoderma sp. atau Pseudomonas fluorescens pada area perakaran sebanyak 200 ml per tanaman dapat dilakukan setiap 2 minggu sekali untuk mengembalikan kesehatan ekosistem media tanam.






