Secara biologis, penyebab utama daun melati keriting adalah serangan hama thrips, tungau merah, dan kutudaun yang mengisap cairan sel pada jaringan daun muda. Kerusakan mekanis pada sel-sel muda ini menyebabkan pertumbuhan bagian atas dan bawah daun tidak seimbang, sehingga daun melati melengkung atau memuntir. Selain itu, hama pengisap sering kali bertindak sebagai vektor pembawa virus kompleks yang dapat merusak sistem vaskular tanaman secara permanen jika populasi hama tidak dikendalikan sejak dini.
Selain faktor biologis, faktor abiotik seperti stres air di musim kemarau turut memicu daun melati menggulung ke dalam sebagai mekanisme alami untuk mengurangi laju transpirasi. Tanaman melati dewasa membutuhkan penyiraman teratur sebanyak 2 sampai 3 liter per pot atau lubang tanam, disiram 1 hingga 2 kali sehari pada pagi dan sore hari saat kemarau terik. Pemberian pupuk nitrogen berlebih tanpa diimbangi kalium juga membuat jaringan daun terlalu sukulen sehingga lebih rentan mengalami distorsi saat terpapar panas ekstrem.
Pengendalian daun melati keriting memerlukan kombinasi teknik budidaya yang konsisten dan saniter. Pemangkasan pucuk yang terserang parah sepanjang 5 sampai 10 sentimeter harus segera dilakukan untuk memutus siklus hidup hama. Aplikasi pestisida nabati berbahan aktif minyak mimba atau ekstrak daun tembakau dapat disemprotkan rutin setiap 3 sampai 5 hari sekali pada sore hari. Jika serangan meluas pada skala kebun, konsultasikan penggunaan pestisida kimia selektif kepada petugas penyuluh pertanian setempat agar tepat sasaran dan aman bagi lingkungan.






