Selain faktor lingkungan, serangan hama penghisap cairan seperti thrips, kutu kebul, dan tungau merah menjadi pemicu utama daun keladi keriting di kawasan beriklim tropis. Hama-hama mikroskopis ini bersembunyi di balik lipatan daun muda dan menyedot nutrisi foliar, yang mengakibatkan pertumbuhan jaringan daun tidak merata dan bergelombang. Pemeriksaan rutin sebanyak 2 kali seminggu menggunakan kaca pembesar sangat dianjurkan untuk mendeteksi koloni hama sebelum kerusakan meluas ke seluruh pelepah.
Manajemen penyiraman dan kelembapan saat musim kemarau memegang peranan kunci dalam mengembalikan kesegaran daun keladi. Penyiraman idealnya dilakukan 1 hingga 2 kali sehari pada pagi hari sebelum pukul 08.00 WIB dan sore hari setelah pukul 16.00 WIB, dengan memastikan media tanam tetap lembap namun tidak tergenang air. Penyemprotan kabut halus di sekitar kanopi tanaman sebanyak 3 kali sehari dapat membantu menaikkan kelembapan nisbi udara di sekitar pot hingga mencapai 60 sampai 70 persen.
Pemulihan tanaman keladi yang terlanjur mengalami daun keriting memerlukan kombinasi sanitasi biologis dan pemupukan yang seimbang. Daun yang rusak parah dan tidak dapat terubus sempurna sebaiknya dipangkas dekat dengan pangkal umbi menggunakan gunting steril untuk menghemat energi tanaman. Setelah sanitasi, berikan pupuk majemuk kaya unsur hara makro dan mikro dengan frekuensi 2 minggu sekali agar umbi keladi segera menumbuhkan tunas daun baru yang sehat dan simetris.






