Penyebab paling umum adalah kekurangan air. Ciri khasnya: daun menguning di tepi, layu pada siang hari, dan tanah kering sampai ke dasar pot. Frekuensi penyiraman ideal saat kemarau adalah setiap 2-3 hari, atau saat 2-3 cm lapisan atas tanah sudah kering. Solusinya: siram secara merata hingga air keluar dari lubang drainase, lalu mulsa permukaan pot dengan sabut kelapa atau serpihan kayu untuk menahan kelembapan.
Penyebab kedua adalah kelebihan air (busuk akar). Ironisnya, gejalanya mirip: daun layu, tetapi tanah terasa basah dan berbau asam. Periksa akar: jika lembek dan hitam, berarti busuk akar. Ini sering terjadi karena penyiraman terlalu sering atau drainase buruk. Solusi: hentikan penyiraman, pindahkan ke pot berlubang, potong akar busuk, dan ganti media tanam dengan campuran perlit, sekam bakar, dan kompos (2:1:1). Biarkan tanah mengering sebelum disiram lagi.
Penyebab ketiga adalah serangan hama seperti kutu putih (mealybug) atau tungau laba-laba. Kutu putih tampak seperti kapas di sela daun, sedangkan tungau menyebabkan bintik kuning dan jaring halus. Keduanya menghisap cairan sehingga daun layu dan kering. Solusi: semprot dengan air sabun (1 sendok sabun cair per liter air) seminggu sekali, atau gunakan minyak neem. Untuk tungau, tingkatkan kelembapan dengan menyemprotkan air ke daun setiap pagi. Hindari pestisida kimia tanpa konsultasi dengan penyuluh pertanian setempat.