Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah stres air harian, di mana tanaman mentimun kehilangan cairan lebih cepat daripada yang bisa diserap oleh akar di dalam tanah berpasir atau liat kering. Di iklim tropis yang panas, mentimun membutuhkan penyiraman rutin sebanyak dua kali sehari dengan volume sekitar satu hingga dua liter per lubang tanam setiap kali siram, terutama pada fase pembungaan dan pembentukan buah. Apabila tanah di sekitar perakaran benar-benar kering dan retak, akar serabut akan mati kekeringan dan membuat tanaman layu permanen.
Namun, jika tanah di sekitar tanaman tetap lembap atau bahkan basah namun mentimun tetap menunjukkan gejala layu total, kita harus mencurigai adanya gangguan patogen tular tanah atau serangga pengganggu. Patogen seperti Fusarium oxysporum atau bakteri Pseudomonas solanacearum dapat menyumbat pembuluh xilem sehingga pasokan air dari akar terputus total menuju daun. Di sisi lain, larva hama penggerek batang yang menetas di dalam jaringan tanaman juga memotong jalur nutrisi tersebut secara mekanis, meninggalkan lubang kecil dengan serbuk gergaji halus pada pangkal batang.
Langkah pemulihan harus disesuaikan dengan hasil diagnosis lapangan yang tepat agar tidak salah sasaran dalam memberikan tindakan kuratif maupun preventif. Untuk masalah kekurangan air, penambahan mulsa jerami atau plastik hitam perak sangat efektif menekan penguapan, sementara untuk masalah penyakit tular tanah, sanitasi kebun dan pencabutan tanaman terinfeksi parah adalah kunci utama pencegahan penyebaran. Mari kita bedah setiap kemungkinan penyebab secara mendetail agar kebun mentimun Anda kembali hijau dan produktif.