Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah stres kekeringan akibat penguapan yang terlalu tinggi dan frekuensi penyiraman yang kurang. Di musim kemarau, tanaman cabai rawit membutuhkan penyiraman sebanyak satu hingga dua kali sehari pada pagi atau sore hari dengan volume sekitar satu hingga dua liter per tanaman, tergantung pada kapasitas pot atau bedengan. Jika tanah di sekitar perakaran sangat kering, retak, dan keras, akar tidak mampu menyerap air sehingga daun dan pucuk tanaman akan terkulai lemas.
Penyebab kedua dan ketiga adalah infeksi patogen tular tanah, yaitu jamur Fusarium oxysporum dan bakteri Ralstonia solanacearum. Kedua patogen ini menyerang sistem pembuluh angkut tanaman dari dalam, sehingga meskipun tanah di sekitar tanaman basah, air tetap tidak bisa naik ke daun. Serangan jamur fusarium biasanya ditandai dengan layu yang terjadi secara bertahap pada sebagian cabang atau sisi tanaman saja, sedangkan serangan bakteri layu bakteri membuat tanaman kolaps secara total dan mendadak hanya dalam waktu satu hingga dua hari saja.
Untuk mengatasi masalah ini secara tuntas, mulailah dengan memeriksa kondisi kelembapan tanah secara manual menggunakan tangan di kedalaman lima sentimeter. Jika disebabkan oleh kekurangan air, segera perbaiki jadwal irigasi dan aplikasikan mulsa organik jerami setebal lima sentimeter untuk menekan penguapan air tanah. Jika terbukti disebabkan oleh patogen tular tanah, cabut dan musnahkan segera tanaman yang sudah parah dengan cara dibakar agar tidak menular ke tanaman cabai sehat lainnya di sekitar lahan pertanian Anda.