Untuk menentukan penanganan yang tepat, lakukan diagnosis diferensial secara cermat pada tanaman yang bergejala. Layu bakteri (Ralstonia solanacearum) ditandai dengan daun layu mendadak namun warna daun tetap hijau segar, disertai keluarnya lendir putih halus saat potongan batang bawah dicelupkan ke dalam air bersih selama 3 hingga 5 menit. Sementara itu, layu fusarium (Fusarium oxysporum) berlangsung secara bertahap mulai dari daun tua bagian bawah yang menguning diikuti cincin kecokelatan pada jaringan pembuluh batang.
Apabila kelayuan murni disebabkan oleh stres kekeringan di musim kemarau, sesuaikan frekuensi penyiraman menjadi 2 kali sehari, yaitu pada pukul 06.00 hingga 08.00 pagi dan pukul 16.00 hingga 17.00 sore. Berikan air sekitar 500 hingga 1.000 ml per lubang tanam sesuai tingkat porositas media. Penambahan mulsa jerami setebal 5 hingga 10 cm di atas permukaan tanah sangat efektif menekan penguapan air dan menjaga suhu area perakaran tetap stabil.
Pencegahan jangka panjang dapat dilakukan dengan mengaplikasikan agen hayati seperti Trichoderma spp. atau Pseudomonas fluorescens yang dikocorkan pada area perakaran setiap 10 hingga 14 hari sekali. Selain itu, lakukan rotasi tanaman dengan kelompok non-Solanaceae seperti jagung atau kacang hijau selama 1 hingga 2 musim tanam untuk memutus rantai hidup patogen tular-tanah di lahan Anda.






