Penyebab paling umum adalah virus mosaik timun (CMV) yang ditularkan oleh kutu daun (Aphis gossypii). Ciri khasnya: daun muda keriting, mosaik kuning-hijau, dan tanaman kerdil. Virus ini menyebar cepat terutama saat musim kemarau karena populasi kutu daun meningkat. Tidak ada obat virus, jadi fokus pada pengendalian vektor dan sanitasi.
Penyebab kedua adalah tungau merah (Tetranychus urticae) yang aktif di cuaca panas dan kering. Daun keriting disertai bercak kuning kecoklatan di permukaan bawah daun, serta adanya jaring halus. Solusinya: semprot air bertekanan tinggi secara rutin (setiap 3 hari sekali) untuk mengurangi populasi tungau, dan gunakan predator alami seperti kumbang Coccinellidae.
Penyebab ketiga adalah defisiensi air atau cekaman kekeringan. Daun keriting diikuti tepi daun mengering dan layu pada siang hari. Ini terjadi karena tanah terlalu kering akibat jarang hujan. Solusinya: perbaiki irigasi dengan memberi air 2-3 hari sekali (volume 5-10 liter per tanaman tergantung umur), dan beri mulsa jerami untuk menjaga kelembaban tanah.