Pada musim kemarau, hama pengisap cairan seperti kutu daun, thrips, dan oteng-oteng menjadi ancaman utama yang membuat daun menggulung serta menghambat pertumbuhan tanaman. Pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 20 hingga 30 lembar per 1.000 meter persegi terbukti efektif menekan populasi imago dewasa. Penyemprotan biopestisida berbahan minyak mimba secara berkala seminggu sekali dapat menghambat perkembangbiakan hama pengisap ini.
Memasuki musim hujan, kelembapan udara yang tinggi memicu serangan lalat buah dan ulat grayak secara masif pada area buah dan daun muda. Tindakan sanitasi berupa pemetikan dan pemusnahan buah terinfeksi setiap 3 hari sekali wajib dilakukan agar larva lalat tidak berpupa di dalam tanah. Pemasangan atraktan methyl eugenol pada jarak 5 sampai 10 meter di luar batas pertanaman membantu menjebak lalat buah jantan secara signifikan.
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara konsisten dapat menjaga produktivitas lahan tetap tinggi sepanjang musim. Rotasi tanaman dengan famili non-Cucurbitaceae seperti jagung atau kacang tanah setiap 3 sampai 4 bulan sekali memutus siklus hidup hama endemik. Penggunaan agen hayati seperti Beauveria bassiana yang diaplikasikan pada sore hari meningkatkan efisiensi pengendalian tanpa merusak ekosistem tanah.






