Selain kekeringan, layu pada tanaman buncis dapat disebabkan oleh patogen tanah seperti jamur Fusarium oxysporum atau bakteri Ralstonia solanacearum. Serangan patogen ini marak terjadi ketika suhu tanah meningkat melebihi 30 derajat Celsius di musim kemarau, terutama pada lahan bekas tanaman polong-polongan yang tidak dirotasi selama 2 musim tanam berturut-turut. Kelembapan tanah yang fluktuatif akibat penyiraman tidak teratur makin mempercepat pembusukan berkas pembuluh tanaman.
Kerusakan perakaran akibat uret atau nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) juga sering menjadi pemicu layu yang terabaikan. Populasi nematoda sebanyak 100 ekor per 100 gram tanah sudah mampu merusak 40 persen sistem perakaran aktif buncis umur 15 hingga 30 hari setelah tanam. Akibatnya, penyerapan hara makro seperti nitrogen dan kalium terhenti total sehingga tanaman tidak mampu menopang penguapan daun yang tinggi.
Untuk mengatasi tanaman buncis yang layu secara efektif, petani perlu melakukan langkah pembenahan sanitasi lahan dan pemberian bahan organik sebanyak 10 hingga 15 ton per hektar saat pengolahan tanah. Aplikasi mulsa jerami setebal 5 sampai 7 centimeter di sekitar piringan tanaman sangat dianjurkan selama musim kemarau untuk menjaga suhu tanah tetap stabil di bawah 28 derajat Celsius serta menekan tingkat penguapan air tanah hingga 50 persen.






