Layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum ditandai dengan tanaman yang mendadak layu dalam kurun waktu 24 hingga 48 jam sementara daunnya masih berwarna hijau segar. Jika batang bagian bawah dipotong dan dimasukkan ke dalam gelas berisi air bersih selama 5 sampai 10 menit, akan keluar benang lendir putih halus atau eksudat bakteri. Kondisi tanah yang masam dengan pH di bawah 5,5 serta kelembapan tanah yang tidak stabil di lahan berdrainase buruk memicu serangan bakteri ini secara masif.
Berbeda dengan bakteri, layu Fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum berkembang lebih lambat dalam waktu 7 hingga 14 hari. Gejala khasnya dimulai dari daun bagian bawah yang menguning secara bertahap dari bagian tepi, lalu merambat ke atas hingga seluruh tajuk layu. Apabila batang dipotong membujur, terdapat cincin pembuluh berwarna cokelat kehitaman akibat jaringan pembuluh kayu atau xilem tersumbat oleh jaringan miselium jamur patogen.
Selain patogen utama, layu pada musim kemarau juga kerap dipicu oleh serangan nematoda puru akar Meloidogyne yang merusak pembuluh penyerap nutrisi, atau kerusakan sistem perakaran akibat pemupukan susulan berlebih. Pencegahan terpadu mencakup pengapuran dolomit untuk menjaga pH tanah ideal pada angka 6,0 sampai 6,8, pemberian pupuk kompos matang sebanyak 2 hingga 3 kilogram per lubang tanam, serta penerapan rotasi tanaman non-Solanaceae selama 2 sampai 3 musim tanam berturut-turut.






