Memasuki fase generatif saat tanaman berusia 25 hingga 60 hari setelah tanam, kebutuhan nutrisi terong bergeser menjadi lebih tinggi unsur fosfor dan kalium. Pada periode ini, kurangi porsi nitrogen dan tingkatkan aplikasi pupuk yang memperkuat pembentukan bunga serta mencegah kerontokan bakal buah. Aplikasikan pupuk tambahan setiap sepuluh hari sekali secara kocor di sekitar perakaran dengan takaran satu genggam larutan per tanaman, atau sesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah setempat pada musim hujan maupun kemarau.
Ketepatan teknik aplikasi sangat menentukan efisiensi penyerapan unsur hara oleh akar terong tanpa merusak jaringan tanaman. Buatlah parit melingkar berjarak lima belas hingga dua puluh sentimeter dari pangkal batang utama, taburkan pupuk di dalam parit tersebut, lalu tutup kembali dengan tanah tipis dan siram hingga basah agar nutrisi segera larut. Hindari menaburkan pupuk kimia langsung menyentuh batang atau daun karena dapat menyebabkan kelayuan akibat panas dan plasmolisis pada jaringan muda tanaman.
Evaluasi berkala terhadap kondisi fisik daun dan vigor tanaman terong sangat penting dilakukan untuk mendeteksi dini kekurangan unsur hara mikro maupun makro. Jika daun terlihat menguning di bagian bawah, tambahkan unsur magnesium atau sesuaikan pH tanah melalui pengapuran jika tanah terlalu masam akibat curah hujan tinggi. Dengan pola pemupukan yang disiplin dan berimbang ini, tanaman terong dapat dipanen secara kontinu selama tiga hingga empat bulan ke depan dengan ukuran buah yang seragam dan mengkilap.