Pada musim kemarau, kelompok hama penghisap seperti kutu kebul dan thrips berkembang sangat cepat. Hama ini menyerap cairan sel daun serta menularkan Gemini virus yang menyebabkan penyakit daun kuning keriting. Jika tidak dikendalikan dalam rentang waktu 14 hingga 21 hari sejak gejala awal muncul, potensi kehilangan hasil panen dapat mencapai lebih dari 60 persen akibat pertumbuhan tanaman terhenti.
Memasuki awal musim hujan, ancaman bergeser ke hama pengunyah dan penggerek, seperti kumbang Epilachna dan ulat penggerek buah. Hama penggerek menyerang buah muda berusia 20 hingga 30 hari setelah tanam, meninggalkan lubang kecil yang berujung pada kebusukan internal. Sanitasi kebun yang buruk dan tumpukan sisa tanaman tua akan mempercepat penyebaran hama ini hingga ke seluruh areal pertanaman.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi pendekatan utama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pemasangan perangkap pelekat kuning sebanyak 15 hingga 20 lembar per hektar serta pemangkasan daun tua setinggi 20 hingga 30 centimeter dari permukaan tanah terbukti efektif mengurangi kelembapan mikro dan menekan populasi hama sasaran tanpa merusak ekosistem lahan.






