Penyiraman yang ideal pada musim kemarau dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pukul 06.00-08.00 pagi dan 16.00-17.00 sore, dengan volume sekitar 250-500 ml air per lubang tanam. Pemberian mulsa jerami selapis 3-5 cm di atas bedengan sangat efektif menekan penguapan air tanah hingga 40 persen. Kebiasaan menyiram di tengah hari saat terik matahari harus dihindari karena dapat mengejutkan jaringan tanaman dan memperparah kelayuan.
Secara patologis, layu bakteri (Ralstonia solanacearum) dan layu fusarium (Fusarium oxysporum) menjadi ancaman serius pada tanah yang suhunya tinggi. Layu bakteri ditandai dengan tanaman yang mendadak layu hijau dalam waktu 24-48 jam, sedangkan layu fusarium memicu pemuningan daun secara bertahap dari bawah ke atas dalam 3-7 hari. Pengolahan tanah yang matang dengan penambahan kompos steril 10-15 ton per hektar sebelum tanam membantu menekan populasi patogen tular tanah ini.
Untuk menjaga produktivitas sawi di lahan seluas 100 meter persegi, pengaturan peneduh berupa jaring paranet 50 persen sangat dianjurkan saat kemarau ekstrem. Penggunaan agens hayati berbasis Trichoderma spp. atau Bacillus subtilis yang diaplikasikan 7 hari sekali sejak persemaian mampu memperkuat perakaran tanaman. Monitoring harian pada pagi dan sore hari akan membantu mendeteksi gejala kelayuan lebih dini sebelum kerusakan meluas ke seluruh areal pertanaman.