Penyebab utama dari masalah ini di lahan terbuka adalah ketidakseimbangan pasokan air dan suhu tanah yang terlalu tinggi akibat terik matahari tropis. Sawi memerlukan kelembapan tanah yang stabil untuk menyerap unsur hara makro seperti nitrogen. Ketika frekuensi penyiraman kurang dari dua kali sehari pada musim kemarau, akar tidak mampu mendistribusikan nutrisi secara optimal, yang langsung memicu klorosis atau penguningan pada daun tua bagian bawah.
Selain faktor lingkungan, serangan organisme pengganggu tanaman seperti kutu daun atau ulat pemakan daun juga menjadi pemicu umum daun sawi menguning di daerah dataran rendah. Hama-hama ini mengisap cairan sel daun atau merusak jaringan hijau daun, meninggalkan bercak kuning yang lama-kelamaan melebar dan mengering. Pemeriksaan visual secara berkala pada bagian bawah daun sangat dianjurkan untuk mendeteksi keberadaan hama sejak dini sebelum populasi mereka meledak.
Langkah pemulihan yang efektif mencakup pengaturan ulang jadwal penyiraman menjadi pagi dan sore hari, pemberian naungan paranet untuk meredam intensitas cahaya matahari langsung, serta pemupukan susulan dengan bahan organik kaya nitrogen. Dengan menerapkan manajemen air yang disiplin dan menjaga kesehatan media tanam, tanaman sawi dapat pulih kembali dan menghasilkan daun hijau yang layak panen dalam kurun waktu 30 hingga 40 hari setelah tanam.