Pada musim kemarau, serangan kutu daun dan ulat penggerek daun sering meningkat hingga 40 persen karena suhu udara tinggi yang mempercepat siklus reproduksi hama. Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 WIB di balik permukaan daun sangat krusial untuk mendeteksi keberadaan kelompok telur atau nimfa sejak dini.
Sementara itu, saat transisi atau puncak musim hujan, kelembapan udara di atas 80 persen memicu ledakan populasi ulat grayak dan ulat krop. Luas serangan hama pemakan daun ini bisa merusak hingga 80 persen populasi tanaman hanya dalam waktu 3 malam jika tidak ditangani secara cepat menggunakan metode mekanis dan hayati.
Sanitasi lahan dengan membersihkan gulma di radius 1 meter sekitar bedengan serta pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah per hektar efektif menekan populasi hama dewasa. Kombinasi rotasi tanaman dengan famili non-brassicaceae setiap 2 musim tanam akan memutus rantai perkembangbiakan hama secara berkelanjutan.






