Penyebab utama dari sisi biologi adalah serangan hama seperti kutu daun (aphids) dan thrips yang mengisap cairan sel pada jaringan daun muda. Hama-hama ini tidak hanya menyerap nutrisi vital, tetapi juga dapat menyuntikkan racun melalui air liurnya atau menularkan virus mosaik yang menyebabkan bentuk daun menjadi terdistorsi, mengkerut kaku, atau melengkung abnormal. Bekas serangan sering kali meninggalkan jejak berupa cairan lengket atau lapisan berwarna keperakan di bawah permukaan daun.
Selain faktor hama, masalah fisiologis berupa defisiensi atau kekurangan unsur hara kalsium juga sering menjadi pemicu utama. Pada musim kemarau, penyiraman yang tidak teratur, misalnya hanya disiram satu kali sehari dengan volume kurang, membuat kalsium terhambat terangkut ke pucuk-pucuk daun muda. Akibatnya, dinding sel pada tepi daun muda gagal terbentuk dengan sempurna, memicu gejala pinggiran daun menggulung, mengkerut, dan tampak seperti terbakar.
Untuk mengatasi masalah ini secara efektif, petani dan pekebun perlu menerapkan kombinasi sanitasi lahan, penyesuaian pola siram, dan pengendalian hama secara terpadu. Pengaturan pemberian air secara konsisten dua kali sehari, pemberian mulsa organik, serta pemasangan perangkap kuning dapat menekan risiko kerusakan daun hingga lebih dari 70 persen jika diterapkan sejak dini.






