Gejala awal busuk akar sering kali tidak disadari karena menyerupai tanaman yang kekurangan air, yaitu daun menguning dan terkulai layu pada siang hari jam 11.00 hingga 14.00, namun tampak segar kembali di malam hari. Jika dibiarkan selama 3 sampai 5 hari, kelayuan akan menjadi permanen dan jaringan akar berubah warna dari putih bersih menjadi cokelat tua hingga hitam membusuk. Pada infeksi berat, kulit luar akar akan dengan mudah terkelupas saat ditarik perlahan dan mengeluarkan bau busuk yang khas.
Penanganan awal di lapangan memerlukan perbaikan sanitasi dan drainase secara drastis untuk menurunkan kelembapan tanah di sekitar perakaran. Petani disarankan membuat guludan setinggi 40 hingga 50 cm serta membuat parit drainase sejajar dengan kedalaman 60 cm agar air hujan tidak menggenang. Untuk penanaman di pot atau polibag, gunakan media tanam poros campuran tanah, sekam bakar, dan kompos matang dengan rasio 2:2:1 serta pastikan lubang drainase bawah tidak tersumbat.
Langkah pemulihan secara hayati dapat dilakukan dengan mengocorkan agen hayati berbasis Trichoderma sp. atau Bacillus subtilis sebanyak 100 hingga 200 ml larutan per lubang tanam setiap 7 hari sekali. Selain itu, pemberian kapur pertanian atau dolomit sebanyak 100 gram per meter persegi sangat penting dilakukan jika pH tanah terukur di bawah 5,5 untuk menekan laju perkembangan jamur patogen. Penggunaan mulsa plastik hitam perak juga sangat dianjurkan saat musim hujan untuk menjaga kelembapan tanah tetap stabil dan mencegah penyebaran spora dari percikan air hujan.





