Curah hujan yang tinggi di berbagai wilayah Indonesia selama musim penghujan menyebabkan drainase lahan sering kali kewalahan menampung debit air, terutama pada lahan dataran rendah atau tanah liat berat. Ketika air menggenang lebih dari 24 jam, oksigen di dalam pori-pori tanah akan habis, melemahkan ketahanan alami akar cabai. Kondisi anaerobik ini sangat disukai oleh berbagai jenis jamur dan bakteri tular tanah yang siap menyerang jaringan akar yang mulai melunak dan terluka.
Untuk mengatasi masalah ini secara efektif, kita harus melakukan diagnosis diferensial yang tepat agar tindakan penanganan tidak salah sasaran. Pemangkasan daun bagian bawah dan pembuatan saluran drainase keliling bedengan dengan kedalaman minimal 30 sentimeter adalah langkah preventif darurat yang harus segera dikerjakan di lahan. Selain itu, aplikasi bahan organik matang yang kaya mikroorganisme antagonis sangat dianjurkan untuk menekan populasi patogen merugikan di sekitar perakaran cabai.
Pencegahan jangka panjang jauh lebih penting daripada pengobatan ketika musim hujan tiba, mengingat laju penularan penyakit akar sangat cepat melalui aliran air permukaan. Selalu gunakan bibit cabai yang sehat dari penyemaian steril, aplikasikan kapur pertanian untuk menaikkan pH tanah masam akibat hujan lebat, dan hindari penggunaan pupuk nitrogen berlebihan yang membuat jaringan tanaman terlalu berair. Dengan manajemen air dan kesehatan tanah yang disiplin, tanaman cabai Anda dapat bertahan dan tetap produktif meskipun cuaca ekstrem.