Masalah ini sering berawal dari penataan lahan yang kurang optimal, seperti tinggi bedengan yang kurang dari 30 cm dan saluran drainase yang dangkal. Ketika air hujan tergenang selama lebih dari 6 jam di sekitar zona perakaran, akar buncis akan mengalami kekurangan oksigen atau asfiksia. Akar yang melemah akibat stres lingkungan ini menjadi sangat rentan terserang oleh spora cendawan jahat yang menetap di dalam tanah.
Untuk menangani infeksi di lapangan, tindakan sanitasi lahan harus segera dilakukan dengan membongkar tanaman yang bergejala parah. Buat parit drainase keliling dengan kedalaman minimal 40 cm agar air cepat mengalir keluar dari area pertanaman. Selain itu, taburkan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1 hingga 2 ton per hektar saat olah tanah jika pH tanah terukur di bawah 6.0 untuk menekan populasi patogen tanah.
Pencegahan jangka panjang dapat dicapai melalui aplikasi agens hayati seperti Trichoderma spp. sebanyak 10 hingga 20 gram per lubang tanam saat penanaman benih. Kombinasikan langkah ini dengan penerapan sistem rotasi tanaman non-legum, seperti jagung atau tanaman serealia lainnya, selama 3 hingga 4 bulan untuk memutus siklus hidup cendawan patogen di dalam tanah.






