Hama penusuk dan penghisap cairan tanaman seperti thrips, kutu daun, dan tungau merupakan musuh utama yang dapat menurunkan hasil panen hingga 80 persen jika tidak ditangani. Selain merusak jaringan fotosintesis, kelompok hama ini berperan sebagai vektor utama penularan virus berbahaya seperti Tomato Spotted Wilt Virus dan Chili Veinal Mottle Virus. Daun paprika yang terserang akan mengalami deformasi, mengerut, dan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dalam waktu 14 sampai 21 hari setelah infeksi awal.
Pengendalian hama paprika yang efektif harus menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu yang menggabungkan metode fisik, mekanis, hayati, dan kimiawi. Pemantauan rutin wajib dilakukan minimal dua kali seminggu dengan memeriksa 10 sampai 20 sampel tanaman per blok green house. Pemasangan perangkap pelekat warna kuning dan biru sebanyak 40 hingga 50 lembar per hektar sangat efektif untuk memantau populasi serangga dewasa sekaligus menekan laju perkembangbiakannya secara signifikan.
Penggunaan biopestisida berbahan aktif jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana atau Lecanicillium lecanii disemprotkan dengan frekuensi 5 hingga 7 hari sekali pada sore hari saat kelembaban udara relatif tinggi. Apabila populasi hama telah melebihi ambang batas ekonomi, penggunaan pestisida kimia dilakukan sebagai langkah terakhir secara bijak. Pastikan selalu merotasi bahan aktif berdasarkan kelompok cara kerja untuk mencegah timbulnya populasi hama yang kebal di pertanaman paprika Anda.






