Secara spesifik, gejala busuk akar pada brokoli ditandai dengan layu daun di siang hari meskipun tanah di sekitar perakaran tampak sangat basah atau bahkan tergenang. Jika tanaman dicabut, bagian akar utama akan berwarna cokelat gelap hingga hitam, berbau tidak sedap, dan kulit ari akar mudah terkelupas dari bagian kayu pusatnya. Perkembangan kepala brokoli (curd) akan terhenti total, berukuran sangat kecil, atau bahkan membusuk sebelum sempat dipanen karena suplai nutrisi dan air dari akar sudah terputus sepenuhnya.
Untuk mengatasi dan mencegah penyebaran busuk akar di musim hujan, petani wajib membuat sistem drainase parit keliling dengan kedalaman minimal 30 sentimeter di setiap bedengan agar air hujan dapat mengalir cepat tanpa menggenangi zona perakaran. Selain itu, praktik pengolahan tanah harus mencakup penambahan bahan organik matang bersama kapur pertanian dolomit secara merata untuk menaikkan pH tanah dan memperbaiki struktur agregat tanah agar tidak mudah padat dan basah. Pemberian jarak tanam yang lebih longgar, misalnya 50 x 50 sentimeter, juga sangat membantu meningkatkan sirkulasi udara di sekitar tajuk tanaman.
Apabila serangan busuk akar sudah telanjur parah dan menyerang lebih dari separuh populasi di lahan, langkah eradikasi atau pencabutan tanaman terinfeksi harus segera dilakukan untuk mencegah penularan ke tanaman brokoli yang masih sehat. Lahan bekas tanaman yang terserang harus diistirahatkan, dibajak ulang, dan dibiarkan terpapar terik matahari selama beberapa minggu sebelum ditanami kembali dengan tanaman bukan sefamili seperti jagung atau padi. Konsultasi rutin dengan petugas penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluhan Pertanian setempat sangat dianjurkan untuk mendapatkan rekomendasi penanganan hayati yang tepat sesuai kondisi spesifik wilayah.