Persiapan benih berkualitas memegang peranan kunci dengan menggunakan umbi seberat 30 hingga 50 gram yang sudah melewati masa simpan atau dormansi dan mulai memunculkan tunas kekar sepanjang 1 hingga 2 sentimeter. Lakukan pengolahan lahan secara intensif dengan mencangkul tanah sedalam 30 sentimeter, lalu buat bedengan setinggi 30 hingga 40 sentimeter dengan lebar 100 sentimeter untuk memastikan sistem drainase berfungsi optimal. Berikan pupuk kandang matang sebanyak 10 hingga 20 ton per hektar yang dicampurkan merata ke dalam tanah bedengan minimal dua minggu sebelum penanaman benih dilakukan.
Tanam benih kentang pada kedalaman 7 hingga 10 sentimeter dengan jarak tanam 30 sentimeter antar lubang dalam barisan dan 70 sentimeter antar bedengan untuk memberikan ruang tumbuh yang ideal bagi umbi. Lakukan penyiraman secara rutin setiap hari pada fase awal pertumbuhan jika tidak turun hujan, namun kurangi intensitasnya saat tanaman memasuki fase pembungaan untuk mencegah serangan jamur patogen. Pemupukan susulan berupa pupuk kaya unsur hara makro diberikan pada saat tanaman berumur 20 hari dan 45 hari setelah tanam secara berdampingan dengan kegiatan pembumbunan.
Kegiatan pembumbunan atau penimbunan kembali pangkal batang dengan tanah dilakukan sebanyak dua kali untuk mencegah umbi terpapar sinar matahari yang dapat menyebabkan umbi berubah warna menjadi hijau dan beracun. Pengendalian gulma dan hama terpadu harus dilakukan secara berkala dengan mencabut gulma manual dan memantau populasi organisme pengganggu tanaman seperti ulat pemakan daun atau kutu daun. Panen kentang dapat dilakukan saat tanaman berumur 90 hingga 120 hari yang ditandai dengan daun dan batang mulai menguning serta mengering secara alami.