Langkah awal menentukan penyebab layu adalah melakukan uji gantung batang dalam gelas berisi air bersih. Potong pangkal batang kentang yang baru layu sepanjang 5 sentimeter, lalu celupkan secara menggantung dalam air jernih selama 3 sampai 5 menit. Jika keluar benang lendir putih seperti susu yang menetes perlahan, tanaman dipastikan terserang layu bakteri Ralstonia solanacearum. Sebaliknya, jika air tetap jernih namun jaringan pembuluh batang berwarna cokelat, penyebabnya adalah infeksi jamur Fusarium atau Verticillium.
Untuk mengendalikan serangan patogen tanah saat musim kemarau, pergiliran tanaman wajib dilakukan minimal 2 hingga 3 musim tanam berturut-turut dengan tanaman bukan famili Solanaceae, seperti jagung atau kubis. Gunakan selalu benih kentang bersertifikat bebas penyakit (klasifikasi G2 atau G3) dengan kebutuhan benih sekitar 1,5 hingga 2 ton per hektar. Pengolahan tanah juga harus menyertakan solarisasi lahan menggunakan mulsa plastik transparan selama 30 hari di puncak kemarau untuk mematikan spora patogen di kedalaman 10 hingga 15 sentimeter.
Manajemen pengairan di musim kemarau memegang peranan kunci dalam mencegah stres air dan menekan perkembangan penyakit. Berikan air irigasi sebanyak 20 hingga 25 liter per meter persegi setiap 3 hari sekali pada pagi hari sebelum jam 09.00. Buat tinggi guludan mencapai 35 hingga 40 sentimeter untuk menjaga aerasi perakaran, serta tambahkan bahan organik matang sebanyak 15 hingga 20 ton per hektar yang telah diperkaya agens hayati penjelajah tanah untuk memperkuat ketahanan akar.






