Persiapan lahan: gemburkan tanah sedalam 20–30 cm, campur dengan pupuk kandang matang (2–3 kg/m²) dan kapur dolomit jika pH tanah di bawah 5,5 (100–200 g/m²). Buat bedengan lebar 1 m, tinggi 20–30 cm, dengan saluran drainase. Perbanyakan umumnya menggunakan anakan (stek) dari rumpun induk yang sudah berumur minimal 8 bulan. Pilih anakan yang sehat, berakar, dan memiliki 3–5 daun. Alternatif lain: biji, tetapi lebih lambat (panen pertama 3–4 bulan).
Penanaman: tanam anakan dengan jarak 20×20 cm, sedalam 3–5 cm, 1–2 anakan per lubang. Siram segera setelah tanam. Pemupukan susulan: beri pupuk NPK 16-16-16 dengan dosis 5–10 g/tanaman setiap 2 minggu sekali, atau pupuk kandang 1 kg/m² setiap bulan. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) saat musim kemarau, cukup 1 kali sehari saat musim hujan. Penyiangan gulma rutin setiap 2 minggu sekali.
Panen pertama dapat dilakukan saat tanaman berumur 60–70 hari setelah tanam (dari anakan) atau saat daun mencapai tinggi 25–35 cm. Panen dengan cara memotong daun sekitar 5 cm di atas permukaan tanah menggunakan pisau tajam. Setelah panen, beri pupuk NPK lagi untuk merangsang pertumbuhan tunas baru. Panen selanjutnya bisa dilakukan setiap 20–30 hari. Tanaman kucai bisa bertahan hingga 2 tahun, tetapi produktivitas menurun setelah tahun pertama. Untuk hasil optimal, lakukan peremajaan setiap 1–1,5 tahun.